What’s to prepare?

Saya mendapati banyak pertanyaan, baik di Direct Message Instagram, Whatsapp atau chat di Line tentang “gimana sih kuliah di luar negeri?”. Jadi saya putuskan untuk menuliskan tiga hal yang berbeda dari kuliah di Australia dari apa yang saya pikirkan sebelumnya. Semoga membantu!

Percaya diri

Sungguh, awalnya saya minder banget. Merasa tidak cukup bagus Bahasa Inggrisnya. Setiap kali ingin menanyakan pertanyaan atau menyampaikan pendapat di kelas, saya berpikir dua kali. Apakah tenses nya sudah benar? Apakah jenis pertanyaan ini berhubungan dengan yang dibahas? Tapi kemudian saya menyadari bahwa lecturer atau pengampu mata kuliah tersebut sangat sangat menghormati dan respect terhadap new learner macam saya. Tidak ada wajah mengejek atau merendahkan, begitupun dengan teman-teman sekelas saya. Komitmen untuk belajar bersama dan jangan takut salah nampaknya cukup besar dan sangat membantu.

Selain itu, percaya diri untuk public speaking juga sangat penting karena selama kuliah master, kegiatan belajar mengajar lebih kepada diskusi dan menyampaikan pendapat. Bahkan untuk program saya, kami mendapat name tag di atas meja sehingga ketika kita menyampaikan pendapat akan mendapat poin partisipasi keaktifan. Jumlah nya pun sangat lumayan untuk mendapatkan nilai hehe.

Meningkatkan percaya diri selama persiapan kuliah bisa dengan aktif berbahasa inggris dengan teman, berbicara di depan kaca (ini saya lakukan setiap hari hahaha).

Salah kostum

Pekan pertama saya menjadi mahasiswa Program Commerce di UWA saya mendapati culture shock. Pertama karena dresscode. Sewaktu menjadi mahasiswa S1 di Universitas Gadjah Mada, Business School student harus menggunakan pakaian rapi atau minimal berkerah. Kami memiliki etika untuk tidak menggunakan sandal selama di kampus. Tapi hal itu jauh berbeda dengan yang saya temukan di UWA. Kami bebas menggunakan apa saja (bahkan beberapa teman menggunakan baju olahraga, I guess baru pulang dari gym).

Tapi ini jadi hal paling seru yang saya alami menjadi international student di Australia. Dengan dresscode yang bebas, kami memiliki kesempatan untuk mencoba mix pakaian yang nggak bisa dipakai di Indonesia hahaha. Pakai jaket unyu, outer atau autumn dress. It is nice experience to have. Dan yang paling seru adalah ketika pakai batik, semua mata tertuju padamu, gitu! Hahaha. Temen Australia dan international student lain sangat eksplisit dan ringan untuk memuji atau compliment kita dan our style. Bisa banget untuk outfit-of-the-day Instagram. Haha

Jerawatan!

Hal lain yang berbeda dari Indonesia ketika pindah ke Australia adalah saya harus mengubah rangkaian perawatan kulit dan makanan dari yang saya pakai di Indonesia.

Ketika di Indonesia kulit muka saya cenderung berminyak parah, saya bawa semua skin care yang mengandung oil control, salicylic acid dan masker-masker yang membantu saya mengontrol minyak. Dengan asumsi awal, Australia adalah negara yang super panas dan akan bikin saya super berminyak!

Tapi kemudian saya ke Perth di musim dingin. Dan super kaget ternyata Australia sangat dingin dan humidity nya rendah banget. Dengan mazhab nggak mau rugi, saya tetep pakai dong, skin care yang saya bawa dari Indonesia. Ternyata malah merusak kulit saya, rasanya super kering banget, kulit muka saya seperti ditarik-tarik. Dan saya berjerawat terus menerus. Tidak ada hari kulit muka saya tidak berjerawat. Jerawatnya semakin parah hingga sampai punggung dan dada. Rasanya tidak karuan. Saya belum pernah separah ini.

Stres banget rasanya. Kulit muka berantakan, jadwal period juga berantakan (dan memperparah jumlah jerawat yang mampir di kulit muka saya) dan lingkaran bawah mata hitam sekali. Setiap facetime-an sama temen di Indonesia nasihatnya selalu sama “Tidurlah, Zid. Kantong mata mu kasihan banget”.

Saya coba semua merk skin care Australia, tapi belum juga berbuah hasil. Hingga akhirnya saya coba diet dairy products. Saya nggak minum susu sapi (padahal enak banget! Seger dan murah disini hahahha) dan turunannya: cheese, butter dan ayam potong. Saya subtitusi dengan susu almond atau soy, butter saya ganti dengan olive spread dan ayam saya ganti dengan free range chicken.

TERNYATA INILAH PENYEBABNYA! Semenjak saya menjadi anti-dairy products, saya tidak pernah jerawatan, tinggal pake double shot of moisturizer dan kulit jadi lebih sehat. Ternyata saya alergi dairy products. Sebel sih, karena disini butter, cheese dan susu nya enak banget!! Tapi kesehatan nomor satu lah hahahaha. Buat temen-temen yang punya kulit sensitif bisa dipakai tips ini sebagai persiapan kuliah di luar negeri.

Semoga membantu, guys. See you around in Perth!

Tulisan dan foto: Zidnie Dzakya Urbayani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *