Kuliah di Perth: Blessing in Disguise?

Terus terang, berkuliah di Australia bukanlah pilihan pertama saya saat mendaftar dan meraih Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) untuk program master luar negeri dari LPDP. Di pertengahan tahun 2015 saat dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima beasiswa, saya memang belum memiliki Letter of Acceptance (LOA) dari universitas manapun meski sudah menyiapkan rencana untuk mendaftar ke beberapa universitas. Tujuan utama saya saat itu adalah program Master of Science (MSc) Biochemistry di Freie Universität Berlin (Free University of Berlin). Sayangnya, meski telah menyertakan aplikasi di awal periode pendaftaran dan berkorespondensi dengan salah satu professor di fakultas bersangkutan, pengumuman tidak kunjung datang hingga menjelang akhir tahun 2015.

Ada rasa panik dan khawatir tentu saja, namun tindakan cepat tentu harus segera dilakukan mengingat tenggat waktu mendapatkan LOA hanya setahun sejak ditetapkan sebagai penerima beasiswa. Saya masih ingin berkuliah di Jerman dan mencoba mencari program MSc bidang biokimia yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Namun sayang program internasional untuk bidang ini masih jarang di Jerman. Mayoritas masih diajarkan dalam bahasa Jerman yang tentu menjadi tantangan tersendiri dan belum sesuai dengan spesifikasi yang saya minati.

Saya pun harus memutar otak mencari alternatif berkuliah di negara tujuan lain. Pilihan beralih ke United Kingdom dan Australia. Dibanding dengan Jerman, beragam universitas di kedua negara ini memang secara umum lebih responsif saat proses aplikasi program. Saat itu saya mencoba untuk mendaftar di beberapa universitas di Skotlandia seperti University of Edinburgh, University of Glasgow, dan University of Aberdeen. Tetapi saya kembali berpikir untuk menemukan program yang benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuan. Kuliah master (termasuk MSc) di kebanyakan universitas di UK saat ini “dimampatkan” hanya dalam satu tahun. Tantangan besar tentu saja, apalagi bagi seorang yang lebih dari tiga tahun tak menyentuh kehidupan akademik dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih perlu diasah.

Untuk itu pandangan saya beralih ke Australia. Rata-rata periode pendidikan master di negeri ini memang dua tahun, ekuivalen dengan Indonesia. Negeri kangguru jiran Indonesia ini memang telah lama dikenal sebagai salah satu negara penyedia jasa pendidikan terbaik, termasuk kepada mahasiswa asing. Setelah browsing mencari program yang cocok, pilihan saya jatuh pada program Master of Biomedical Science (MBiomedSc) dengan spesialisasi Biochemistry and Molecular Biology di The University of Western Australia (UWA), Perth, Australia. Respon UWA memang sangat cepat saat itu. Dalam kurun waktu kurang dari seminggu, saya telah memperoleh LOA dan setelah menimbang-nimbang beragam hal, saya kemudian menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan LPDP untuk mengubah kampus tujuan saya.

The Clock Tower UWA

The Clock Tower UWA

Bersyukur, kerjasama dengan pihak LPDP untuk mengubah tujuan studi pun berlangsung cepat dan tanpa melalui proses yang rumit. Mungkin juga karena secara umum peringkat UWA memang lebih baik dibandingkan universitas pilihan saya terdahulu. Setelah empat bulan merasakan berkuliah di UWA dan tinggal di sekitar kampus, saya merasakan bahwa memutuskan berkuliah ke Perth adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Secara akademik, program ini memang sangat cocok dengan minat dan visi riset saya ke depan. Para staf, dosen, dan guru besar sangat humble, kooperatif, dan tak segan berhubungan baik dengan para mahasiswa. Terdapat banyak program yang disediakan pihak universitas untuk membantu para mahasiswa internasional untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus, seperti Orientation Week, program UniMentor, English bootcamp, workshop StudySmarter, dan kegiatan menarik di Language and Cultural Exchange (LACE).

Kehidupan di Perth memang tenang dan lambat, terasa sangat kontras dengan metropolitan seperti Jakarta, atau kota besar lainnya di Australia seperti Sydney dan Melbourne. Lingkungan kampus UWA yang tepat berada di tepi Swan River dan Matilda Bay juga terasa sangat asri yang ditumbuhi beragam jenis pohon yang bahkan berusia ratusan tahun. Atmosfer akademik yang majemuk dan kompetitif namun menjadi kondusif untuk mengembangkan kemampuan. Ditambah lagi terdapat banyak mahasiswa Indonesia lainnya yang kooperatif, terbuka, dan sering mengadakan beragam kegiatan yang dapat mengobati rasa rindu kepada tanah-air.

Kuliah di UWA bisa jadi bukan pilihan utama saya, namun jelas ini pilihan yang terbaik dan paling sesuai dengan kondisi saya saat ini.

Teks dan Foto: Abi Ghifari
School of Chemistry and Biochemistry
The University of Western Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *